#

Rabu, 06 April 2016

Terbongkar, Inilah Tradisi Orang China dalam Berbisnis

Bangsa Cina merupakan salah satu bangsa pebisnis terbesar di dunia. Konon, untuk menjalankan bisnisnya, bangsa Cina rela berpindah ke tempat baru yang masih belum dikuasai oleh bangsa mereka. Hal ini bisa dilihat di hampir semua kota yang ada di Indonesia dimana roda perekonomiannya sebagian besar telah didominasi oleh bangsa Cina.

Lantas, apa sih rahasia kesuksesan bangsa Cina yang sebenarnya? Mengapa bangsa Cina bisa menguasai hampir setengah dari perekonomian Indonesia? Simak jawaban lengkapnya di bawah ini :

 

Tradisi Bisnis Masyarakat Cina yang Bisa Dipelajari

Tradisi Bisnis Ala Orang China yang Perlu Diketahui

Disiplin

Pondasi bisnis pertama sekaligus yang paling utama dari bangsa Cina adalah disiplin. Dalam setiap aktivitas bisnisnya atau pun aktivitas – aktivitas lain yang dikerjakannya, bangsa Cina selalu mengedepankan kedisiplinan diri yang tinggi. Dalam berdagang contohnya, orang Cina selalu memiliki jadwal buka dan tutup yang konsisten. Meskipun jumlah pelanggan sangat membludak atau pun sedang sepi, jika waktunya tutup, mereka akan tetap tutup. Meskipun terlihat sepele, ternyata tradisi mendisiplinkan diri sendiri ini memegang peranan yang sangat besar terhadap kesuksesan mereka.

 

Matikan Kekuatan Pesaing Sedini Mungkin

Tradisi bisnis ke dua yang juga selalu dilakukan oleh bangsa Cina adalah tradisi persaingan harga yang agak sedikit “tidak sehat”. Ya, kenapa disebut tidak sehat? Karena dalam bersaing, bangsa Cina biasanya menetapkan harga jual yang jauh dibawah para pesaingnya dan juga harga beli jauh di atas para pesaingnya. Nah, ketika para pesaingnya sudah tumbang dan tidak mampu beroprasi, barulah secara perlahan mereka menaikkan harga jual dan menurunkan harga beli di toko mereka. Licik ya? Ya, memang sangat licik, namun juga sangat efektif untuk membunuh pesaing dengan cepat.

 

Optimisme yang Tinggi

Bangsa Cina merupakan bangsa dengan tingkat optimisme tertinggi ke dua setelah bangsa Jepang. Bagi orang Cina, bisa itu nomor sekian, yang paling pening dalam hidup adalah berani mencoba dan juga mau berusaha / berbuat dengan optimis. Konon, menurut salah satu sumber yang penulis baca, sangking tingginya tingkat optimisme yang dimiliki oleh bangsa Cina, banyak bangsa Cina yang bunuh diri ketika bisnis atau pun harapan yang mereka usahakan tidak berhasil mereka jalani dengan sukses / mereka raih.

 

Pondasi Komunitas yang Kuat (tradisi bisnis “Guanxi”)

Masyarakat Cina memiliki hubungan komunitas dan juga tingkat solidaritas antar sesama bangsa Cina yang sangat kuat. Konon, untuk bisa sukses bersama – sama, bangsa Cina biasanya melakukan aksi tolong – menolong antar sesamanya yang menjalankan bisnis / dagan produk yang sejenis. Dan hebatnya lagi, dalam satu rumpun bisnis seperti bisnis otomotif, mereka menggunakan sistem “banyak toko, satu rumpun pedagang”. Artinya, semua pedagang dari bangsa Cina yang ada di tempat tersebut (satu rumpun lokasi) bisa dan diperbolehkan menjual barang milik toko lainnya.

 artikel menarik lainnya : Inilah alasan mengapa negara China bangkit dan kini diperhitungkan dunia!

Didikan Orang Tua Sedari Kecil

Tahukah Anda jika orang Cina sudah mendapatkan pelajaran dagang dari orang tuanya sejak kecil? Ya, menurut pengamatan yang penulis lakukan, hampir 80 % masyarakat Cina yang ada di Indonesia merupakan pedagang. Dan hebatnya, dari 80 % penduduk Cina di Indonesia yang berprofesi menjadi pedagang, semuanya selalu mendidik anak – anak mereka untuk turut serta di aktivitas dagang mereka setiap hari sepulang sekolah. Hal ini tentunya jauh berbeda dengan anak – anak masyarakat pribumi yang selalu bermain dengan bebas di waktu luangnya sepulang sekolah. Sehingga, ya wajar saja jika kemampuan bisnis masyarakat Cina berada jauh di atas kemampuan bisnis masyarakat pribumi.

Nah, itulah tradisi orang China dalam Berbisnis yang layak untuk kita tiru. Semoga bermanfaat ya!
|| Penulis : Pandu Agung P, Irta Putri, Rahmad S.Ik, Fajar M ||Ingin menghubungi pemilik Blog ? kirimkan pesan anda ke fajar.sos1@gmail.com atau melalui laman Contact

0 comments

- Berkomentar disarankan tidak out of topic
- Dianjurkan tidak menautkan link aktif
- Komentar tidak mengandung unsur SARA, dan konten dewasa
EmoticonEmoticon